September 24, 2021

Gina Classics

Gina Classic Blog

Pengelolaan Sampah, Wamen KLHK Nilai Circular Economy Paling Ideal untuk Diterapkan

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Alue Dohong menilai konsep Circular Economy dalam pengelolaan sampah merupakan pemikiran yang paling ideal untuk diterapkan di Indonesia. Pasalnya, Indonesia masih sangat membutuhkan pertumbuhan ekonomi sebagai negara yang sedang menuju negara maju. "Di dalamnya (Circular Economy) terdapat ekosistem, di antaranya end user, recycling industry, bank sampah, TPS 3R, PKPS (Primer Koperasi Pengelolaan Sampah), recycling center, sektor informal, social enterpreneur dan social movement," kata Wamen Alue dalam keterangan saat mengisi webinar Sahabat Daur Ulang bertajuk 'Memperkuat Waste Management untuk Mendukung Circular Economy', Rabu (11/11/2020).

Dengan Circular Economy, dirinya menyebut persoalan persampahan dapat diselesaikan dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh dengan baik. "Artinya, sampah bisa dimanfaatkan kembali menjadi uang dan energi," katanya. Sementara untuk menjalankan Circular Economy, diperlukan kondisi yang mendukung.

Di antaranya adalah insentif fiskal, kebijakan import scrap, kebijakan EPR (extended producer responsibility) dan standarisasi produk daur ulang, sertua diikuti dengan kebijakan mendorong penggunaan recycling content. "Di Indonesia sendiri, industri plastik hilir nasional terdiri dari sekitar 1.580 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Terdapat 892 perusahaan yang memproduksi kemasan, dengan total kebutuhan mencapai 5,635 juta ton," kata Alue. Sedangkan konsumsi plastik di Indonesia, kata Alue, cukup besar.

Hal ini didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman yang cukup tinggi yaitu sebesaar 8 10 persen per tahunnya. "Pengembangan industri plastik masih terkendala dengan pemenuhan bahan baku. Ketergantungan bahan baku plastik impor masih tinggi karena produsen dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas maupun spesifikasi produk," pungkasnya. Sementara, data timbulan sampah di Indonesia menunjukkan bahwa di 2019 sampah rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 62 persen dengan sampah makanan di dalamnya sebesar 44 persen, sedangkan sampah plastik memberikan kontribusi sebesar 15 persen.

Pemerintah sendiri, dikatakan Alue, telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan regulasi yang mendukung pengelolaan sampah di Indonesia. "Hal ini tentunya membuktikan keseriusan pemerintah dalam pengelolaan sampah untuk mendukung Circular Economy," pungkasnya.